crowdfunding qoloni

crowdfunding makin populer, apa sebabnya?

Seiring makin meningkatnya kecepatan akses internet dan makin tergantungnya masyarakat dengan mobile device, cara masyarakat ikut dalam aktivitas sosial juga makin ‘techy’. Smartphone pada mulanya lebih berfungsi alat bantu komunikasi semata, saat ini telah berubah menjadi alat bantu aktivitas manusia keseluruhan. Mulai mencari informasi hingga transaksi. Mulai rute berkendara, berbagi tontonan dan bacaan, hingga berdonasi. Bahkan smartphone saat ini telah menjadi konsultan gizi yang menakar jenis dan jumlah makanan agar diet penggunanya berjalan baik.

Pengguna gadget saat ini berinteraksi rata-rata 60 menit per hari dengan dunia virtual. Pada tahun 2020, menurut Delta Research dari Amerika, interaksi bahkan bisa berlipat tiga yakni 180 menit per hari. Bisa dibayangkan nanti akan seperti apa perkembangan smartphone, baik teknologi perangkat kerasnya maupun jenis aplikasi yang tersedia di dalamnya. Saat ini saja, penunjang interaksi digital berupa virtual reality dan augmented reality makin menjamur.

Gejala lingkungan digital yang makin deras diatas hanya salah satu sebab mengapa publik makin memilih platform digital untuk melakukan aksi sosial, misalnya melakukan donasi, terlibat langsung membantu masalah sosial, menyumbang tenaga dan keahlian untuk warga gusuran, mengajar di kawasan yang tertinggal dalam masalah pendidikan, membantu bakti medis dan sosial, penyuluhan kesehatan, memberikan ketrampilan di bidang bisnis dan lain sebaginya.

Sebab kedua adalah ‘internet native’ yang makin mendominasi struktur populasi di Indonesia dan juga dunia. Generasi millenials yang mendominasi populasi Indonesia, ditambah usia aktif kisaran 19-45 tahun, adalah generasi yang mengenal internet semenjak lahir hingga masa produktifnya, yang melakukan ‘searching & participating’ untuk kegiatan sosial. Booming inilah salah satu yang membuat jumlah dana yang terhimpun melalui situs crowdfunding (dalam bentuk loan & equity) di dunia telah melampaui dana modal ventura. Crowdfunding kemudian membelah diri menjadi crowlending dan micro financing yang menyalurkan dana untuk konsumsi dan modal mikro dengan metode peer-to-peer financing.

Salah satu sebab lain yang tak kalah pentingnya sebagai pemicu peran crowdfunding di tengah masyarakat Indonesia saat ini adalah karena perubahan perilaku masyarakat yang makin ingin terlibat dalam aksi kebaikan. World philanthropy organization (2015) menyebut Indonesia berada di posisi antara Inggris dan US dalam index partisipasi untuk kegiatan sosial. Di satu sisi, kelompok ‘aktivis sosial’ dan ‘donatur baru’ ini sangat memerlukan transparansi untuk program yang mereka bantu, dan crowdfunding adalah pilihannya.

Meski di Indonesia platform crowdfunding tak banyak, 4 diantaranya yang cukup dikenal seperti QOLONI.com, Kitabisa, Gandengtangan dan Wujudkan, perannya makin menguat dan menjadi inspirasi pengumpulan dana untuk aksi sosial di tengah masyarakat. Platform crowdfunding dianggap salah satu jalan pintas untuk mengatasi permasalahan sosial yang makin menganga.

Join @endykurniawan di Twitter, Path, Instagram, LinkedIn, Pinterest dan Facebook | Gabung sebagai inisiator atau backers kegiatan sosial di QOLONI

Start the conversation