_MG_9808

millenials, flipfunneling & mobile strategy (1)

11 Juni lalu saya diundang untuk berbagi di forum rutin Google Business Group (GBG) Chapter Jakarta. Meski nervous karena mengira forum ini terlalu “IT teknikal”, akhirnya saya diyakinkan oleh Hafiz Khairu Rizal (Manager GBG Jakarta) bahwa ‘angle’ materi bisa dari manapun. Saya bagikan general view dalam strategi ‘mobile’ sebuah bisnis, seraya mengawalinya dengan tren yang terjadi di sisi user, yaitu publik yang didominasi “MILLENIALS”, tren mobil app yang cenderung stagnan dari sisi jumlah unduhan, serta proyeksi solusi digital apa yang akan menarik untuk digeluti sampai 2020.

Satu narasumber lagi Wilfred Halim (Google Singapore) berbagi hal yang – tentu saja – sangat teknikal, yakni pemanfaatan fitu-fitur di Google untuk mengoptimasi impak bisnis secara mobile. Acaranya seru, ramai dengan audiens heterogen : mahasiswa, UKM, startups dan media.  Garis besar materi saya adalah tentang perlunya sebuah bisnis yang memutuskan menggunakan plaftorm digital untuk mengetahui benar kekuatan bisnisnya dan mengenali pasarnya melalui riset. Diantara yang paling penting adalah mengetahui ‘customer’s journey’ dan memastikan titik sentuh mereka dengan bisnis kita baik secara fisik maupun digital/ online. Bagian awal materi menjelaskan tentang tren OTT, telco industry dan Mobile Application. Dan bagian akhir memberikan tahap interaksi pelanggan dengan bisnis dan contoh interaksi seperti apa yang bisa dibuat oleh bisnis kita agar memiliki impak bisnis yang diharapkan.

MILLENIALS

Julukan untuk generasi yang lahir 1982 sampai 2004 (Strauss & Howe) ini debatable dan berimpit dengan sebutan Gen-Y yang oleh Harvard Center disebutkan lahir pertengahan tahun 1970-an sampai 2000-an. Kurang lebih gejalanya mirip : tech atau gadget savvy, self-absorbed & free spirit. Ini adalah generasi yang kompleks dan sulit dipahami. Sangat mandiri dan sulit dibentuk oleh upaya di luar diri mereka. Kalaupun bisa, mereka berubah sangat cepat.

Memasarkan produk di hadapan generasi millenials adalah proses yang rumit. Mereka tumbuh dengan berbagai macam iklan dan promosi di sekitar mereka sehingga mereka tak mudah ditipu dengan pesan pemasaran sederhana. Celakanya lagi mereka cukup tahu diri bahwa dunia saat ini sangat tergantung pada tren dan gejala sosial yang sedang menjangkiti generasinya (saat ini di Amerika ada sekitar 80 juta ‘millenials’ yang jadi ‘driver’ tren di pasar dan industri), sehingga makin tak mudah membuat mereka takluk.

Bisnis apapun, atau organisasi apapun yang menjadikan publik dan retail sebagai target mereka perlu menyadari hal ini. Memikirkan ulang model bisnis, kekuatan merek dan unique selling point sebelum mengarungi pasar digital yang makin tak keruan. Bagaimanapun, jika bicara jangka panjang, pada tahun 2020 Millenials akan memiliki disposable income yang jumlahnya menggiurkan (sekitar USD 1,4 Triliun di Amerika saja). Di angkatan kerja, generasi muda ini sedang dominan, dan beberapa tahun ke depan mereka akan makin menguasai arah permintaan pasar, sehingga penting untuk membangun brand loyalty sedari kini (bersambung ke bagian 2 : TELCO TRENDS)

*Bagi teman-teman yang memerlukan materinya (berjudul “FLIPFUNNELING FOR MOBILE STRATEGY) bisa tinggalkan alamat email di bagian comment.

Join @endykurniawan di Twitter, Path, Instagram, LinkedIn, Pinterest dan Facebook | Gabung sebagai inisiator atau backers kegiatan sosial di QOLONI.com

Join the conversation

  • Idris rachman - 1 year ago

    Terima kasih pak Endy sangat bermanfaat materi di GBG Jakarta Tempo hari

    • endy - 1 year ago

      Sip. Semoga aplikatif ya. Sudah terima soft copy materinya?

    • endy - 11 months ago

      Trims. Semoga manfaat.

  • Aslan saputra - 1 year ago

    Sangat bermanfaat sharing ilmunya pak Endy. Bolehkah saya juga dikirim materinya untuk dipelajari juga? Terima kasih pak

    • endy - 11 months ago

      Boleh. Silakan tuliskan alamat emailnya.