Foto bersama DR Fachrudin Mangunjaya dari PPI UNAS usai meluncurkan inisiatif Indonesia di ajang COP22

janji aksi untuk bumi

Dunia mengingat Maroko melalui kisah heroik Thoriq bin Ziyad yang membawa Islam pertama kali memasuki Eropa dari Afrika. Sejak itu Islam tak bisa dibendung lagi menerangi Gibraltar, Granada bahkan mendirikan pusat kekhalifahan di Spanyol. Thariq sang jendral dari dinasti Umayyah memimpin penaklukan muslim atas wilayah Andalusia (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M. Pada musim panas tahun itu, sang jendral berangkat menuju Andalusia. Pada tanggal 29 April 711, pasukan Thariq mendarat di Gibraltar, di sisi Spanyol, yang saat ini menjadi koloni Inggris.

Jarak antara Tangier di Maroko dan sisi paling utara Spanyol cuma 14 km, sekitar dua kali selat Bali. Meski berupa selat sempit yang membelah Afrika dan Eropa, kanal Gibraltar itu memisahkan jarak yang sangat lebar dan jurang yang dalam dalam antara kemajuan Eropa dan ketertinggalan Afrika.

Kisah dalam sejarah itu terus orang ingat hingga kini. Tahun ini dunia makin mengingat Maroko, tepatnya di Marakes, sebuah kota kuno sarat peninggalan sejaran dan budaya di sebelah utara Kasablanka, karena disana dihasilkan komitmen aksi penyelamatan bumi di Conference of Parties ke-22 (COP22), dibawah UN Framework Convention on Climate Change (UNFCC).

Saya ikut selama sepekan aktivitas di Bab Ighli, area hijau di barat laut Madina, Marakes, yang disulap jadi arena konferensi dengan konsep ‘hijau’. Pada Kamis, 10 November 2016, di area “Green Zone” yang mewakili non-governmental, delegasi Indonesia mendapat panggung bersama pegiat Global Muslim for Climate Change Network (GMCN) dari Maroko, Eropa dan Amerika Serikat, untuk bercerita aksi nyata yang telah dilakukan untuk selamatkan bumi. Program sentral Indonesia yang dijadikan success story adalah “Green Hajj” – sentra gerakan ini dipilih karena dua sebab: pertama karena Haji dan Haji Kecil (Umroh), kongres akbar umat Islam setiap tahunnya yang melibatkan jutaan muslim di Arab Saudi. Sebab kedua 1,2 juta orangnya dari Indonesia. Terbesar. Jika upaya dilakukan menyentuh aspek ini, maka dampak positif secara signifikan bisa dirasakan dunia, Arab Saudi sebagai tuan rumah, dan Indonesia sendiri.

Indonesia menceritakan program kampanye Green Hajj melalui edukasi tentang lingkungan saat manasik haji dan umroh, dimotori ADzikra Travel Haji & Umroh. Sementara kampanye digital diambil bagiannya oleh Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI Unas), melanjutkan inisiatif awal mereka berupa kampanye Green Hajj melalui seminar, FGD dan penyuluhan di asrama haji. Saat ini, PPI Unas telah memiliki aplikasi aplikasi mobile untuk Android yang berisi panduan haji dan umroh dan bagaimana jamaah mengambil peranan untuk aksi pencegahan kerusakan lingkungan. Peluncuran aplikasi ini di Side Event COP22 mendapat sambutan luar biasa dari peserta dan regional lain siap mengadopsi.

Terakhir Qoloni yang memulai aksi melalui program Green Masjid. Program sederhana yang melibatkan publik maupun biro travel haji-umroh untuk berdonasi penanaman pohon keras di lingkungan masjid, melalui platform crowdfunding Qoloni. Dengan 1,2 juta jamaah haji dan umroh per tahun, dengan implementasi program “One Pilgrimage-One Tree” maka akan ada 1,2 juta benih hijau baru di Indonesia.

Setelah deklarasi penyelamatan bumi Desember 2015 di Paris, Maroko 2016 adalah komitmen aksi. Konferensi sendiri berlangsung hingga 18 November, dan kesepakatannya juga mengikat negara maju, tidak seperti sebelumnya yang cenderung menjadikan negara berkembang sebagai pelaku utama tanpa dukungan dana.

Indonesia perlu rencana aksi yang lebih nyata, baik yang diperankan pemerintah maupun society. Ummat Islam harus paling depan ambil bagian, karena akhlak terhadap lingkungan bahkan menjadi bagian dari ajaran agama yang diatur detil, baik dalam kitab suci Al-Quran maupun sunnah nabi. This is the #actiontime !!

Join @endykurniawan di Twitter, Path, Instagram, LinkedIn, Pinterest dan Facebook | Gabung sebagai inisiator atau backers kegiatan sosial di QOLONI

Start the conversation