shutterstock_92562316

jangan dengar media

Dulu selebtwit atau selebgram, atau politikus populer di media sosial, akan posting “Saya akan tampil di TV jam 19.00 dalam sebuah acara talkshow, nonton ya” di akun sosialnya. Pengumuman ini memosisikan media sosial sebagai supporting channel untuk aktivitas di media utama seperti tv atau media online. Harapannya, ‘pengumuman’ ini menarik perhatian yang tinggi saat acara di tv berlangsung.

20 Mei lalu, usai Donald Trump menandatangani kesepakatan kerjasama pertahanan dengan Raja Salman dengan nilai lima ribuan trilyun rupiah, Trump mengumumkan akan menjelaskan deal raksasa itu melalui Twitter. Sontak semua televisi menuliskan “Trump will Twit the deal” di breaking news. Orang menunggu konferensi pers tapi hanya Rex Tillerson (sekretaris negara) yang bicara. Publik dunia lalu memindahkan tatapan ke layar gawai mereka, memantau linimasa Presiden Amerika.

Saya sedang di Abu Dhabi ketika peristiwa itu terjadi. Meski tak terlalu mengagetkan mengingat ketidakpercayaan Trump terhadap media-media utama Amerika seperti CNN sejak kampanyenya – Trump berulang kali mengatakan selama pemilihan umum bahwa media mencuranginya & memanipulasi berita tentangnya – hingga saat ia menjabat, fenomena ini akan memicu ’swing’ yang lebih kencang ke arah yang menegaskan bahwa dominasi media utama mendekati akhirnya. Saya tekan seluruh channel televisi di kawasan Arab maupun internasional yang menyiarkan langsung acara itu: semua televisi dengan ‘terpaksa’ mengarahkan pemirsanya memantau Twitter: Trump tidak di podium konferensi pers. Trump akan mengetik di telepon pintarnya.

Bayangkan dua kontras yang terjadi di atas. Fenomena berlawanan dalam jarak waktu tak terlalu lama. Dulu media sosial sebagai pendukung, sekarang jadi sumber berita utama.

Kalau sebuah perusahaan, brand tertentu, atau selebriti dan politisi memiliki channel untuk fans-nya, dengan pemirsa tertarget berjumlah jutaan dalam satu waktu, apakah masih relevan adakan jumpa pers dengah harapan pemberitaan menjangkau publik – yang menyebar/ mengambang – untuk kegiatannya?

Ketika ramai-ramai gerakan ‘anti hoax’ bergulir, yang dijadikan tema utama aparat untuk membredel media tak terdaftar dan juga media sosial penebar kebencian, kita justru menyaksikan pertunjukan lain dimana tidak kredibelnya media-media utama dalam memposting berita. Sudah begitu, mereka tidak bertanggung jawab dan tidak meminta maaf atas salah yang dilakukannya. Rupanya media utama, dengan ‘kemewahan’ yang mereka dapatkan, makin sulit dipercaya.

Maka saat ini, pada tingkat tertentu, dengan analisis audiens dan strategi konten yang hasilnya terukur, sangat mungkin sebuah brand (korporat maupun personal) untuk mengambil kendali pemberitaan penuh kepada dirinya. Menggunakan kanal-kanal ofisial yang dikelola sebagai corong media dan menomorsekiankan media-media utama yang kadang suka pelintir berita. Seperti – ekstrimnya – langkah Trump yang menyerang reputasi media Amerika yang sarat agenda. Ia mengajak publik untuk terhubung langsung dengan akun media sosial miliknya, karena disana semua orisinal, tanpa filter dan – menurutnya – tanpa rekayasa.

Start the conversation