Crowdfuding QOLONI

branchless banking & crowd(ed)funding

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang sibuk menata aturan tentang Fintech (financial technology). Istilah Fintech, industri yang terdiri dari perusahaan yang menggunakan teknologi untuk membuat layanan keuangan yang lebih efisien, makin tak asing di lingkungan industri digital dan startup di Indonesia. Karena makin marak, sebelum akhir tahun, OJK berjanji akan menyelesaikan aturan ini. Fokusnya adalah pada keamanan data dan dana demi perlindungan konsumen. Antisipasi aturan ini sebuah langkah maju untuk Indonesia, mengingat sebelumnya pemerintah sering lambat merespon tren teknologi, ambil contoh taksi berbasis daring yang sempat menimbulkan konflik antar seteru pelaku usaha.

Konon, bank dan pemerintah telah gagal untuk memecahkan salah satu masalah mendasar di Indonesia yaitu inklusi keuangan. Pada tahun 2014, sekitar 60 persen dari populasi orang dewasa di Indonesia masih tidak memiliki rekening bank. Rumah tangga terjebak dalam siklus kemiskinan karena mereka tidak memiliki akses ke pinjaman yang adil pada saat dibutuhkan. Kejadian itu terus berlarut dan tidak ada terobosan besar yang terjadi. Karena itulah fintech dipandang berpotensi jadi penyelamat. Fintech saat ini dibutuhkan untuk menjangkau pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang selama ini tidak bisa diakses oleh perbankan dan lembaga keuangan tradisional.

Tantangannya, fintech saat ini masih menyemut di kota dan melayani berbagai kebutuhan masyarakat kota. Akibatnya, timbul perebutan dana dengan lembaga keuangan lain. Terjadilah crowded funding. OJK mengamati, beberapa Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sempat terganggu dengan meningkatnya perkembangan bank tanpa kantor, atau Branchless Bank. Branchless bank ini adalah platofrm digital penyedia kredit rumah tangga (kebutuhan sehari-hari, beli TV, beli motor) dan pinjaman modal usaha kecil dengan syarat ringan, tanpa embel-embel nama “BANK” di depannya, tapi bisa merangsek ke lapisan masyarakat yang terhubung dengan internet.

Salah satu solusi yang ditawarkan fintech adalah pembayaran mobile yang menjangkau masyarakat yang tak memiliki rekening bank. Kredit mikro yang didistribusikan secara online bisa membuat pemilik usaha kecil meraih modal. Uniknya, solusi fintech adalah ‘horizontal’ dan bisa ‘many-to-many’, dan ‘from crowd to crowd’. Pemilik dana yang disalurkan dan dipinjamkan tidak selalu dari perusahaan besar. Sumbernya bisa berasal dari masyarakat banyak. Oleh sebab itu satu kategori yang sedang ‘booming’ dalam fintech adalah peer-to-peer (P2P) lending. Uang tidak datang dari lembaga keuangan, tetapi dari pemberi pinjaman perorangan seperti kita.

Ada beberapa situs pinjaman P2P & B2P (Business to Peer) di Indonesia, masing-masing dengan model dan ciri khasnya. Semua situs ini masih berusia muda. Misalnya Modalku yang berinduk di Singapura,  Investree yang berfokus pembiayaan fakturing/ invoicing. Juga ada Amartha yang di-backup bank besar namun memberi pinjaman dengan konsep Grameen. Untuk bantuan perusahaan sosial, kita kenal GandengTangan yang beroperasi mirip Kickstarter. Terakhir ada juga QOLONI yang semula berfungsi untuk menggalang dana bantuan untuk program-program sosial namun dalam perkembangannya juga membantu memodali UKM untuk berkembang dengan program kolaboratifnya.

Fintech bisa menjadi the next disruptive innovation. Gejalanya sudah banyak, apalagi di barat yang telah lebih dini mengadopsi equity crowdfunding semisal Kickstarter dan Kiva. Usaha kecil dan pemilik ide tak memerlukan bank untuk mewujudkan mimpi, mereka tinggal memulai campaign di situs crowdfunding untuk menjual ide (juga membentuk pasar) dan meraih dukungan. Demikian pun rumah tangga yang sedang mengalami kesulitan uang dan berharap bantuan, mereka menuju tempat yang sama untuk menarik simpati dan meminta donasi.

Industri finansial dalam waktu cepat bisa jadi segera menyusul industri penginapan yang mulai goyah karena Airbnb dan sektor transportasi yang jadi ‘kacau’ karena Uber dan Grab. Dalam sebuah riset global akhir 2015, Delta Strategy dari Amerika mengeluarkan hasil yang cukup mengejutkan dimana publik tidak terlalu memedulikan brand perbankan jika mereka harus lenyap dari pasar. Artinya, dalam hal keuangan yang makin digitalize dan one-touch solution dalam genggaman, yang orang cari adalah solusi, bukan lagi merek. Ini menjadi sangat wajar karena semua hal terkait keuangan adalah yang paling mudah menjadi online dan ‘sejajar’. Tidak perlu kantor bank (branchless bank). Tidak perlu modal besar. Asal jangan crowdedfunding saja.

Join @endykurniawan di Twitter, Path, Instagram, LinkedIn, Pinterest dan Facebook | Gabung sebagai inisiator atau backers kegiatan sosial di QOLONI

Start the conversation